• Beranda
  • Cariyos
  • Catatan
    • Life Hacks
    • Anabul
    • Sambat
  • Jejak
  • Porto
facebook instagram pinterest twitter

a side of unseen life

ruang bertemu makna, lewat untaian kata

atas: Brunet, dari kiri: Rajja, Tacos, Dot kurang dari 24 jam
Pas balik Jogja awal bulan November 2020, ada satu kucing belang telon alias kaliko yang tiba-tiba aja main serobot masuk rumah rantau. Bahkan pas pintu sudah ditutup dia lompat lewat jendela, padahal makanannya ada di teras. Heran dong, kucing siapa, nih? Mana terhitung bersih dan bulunya halus buat kucing liar. Takutnya punya orang gitu, ntar dikira nyulik.
Sudah niat rescue jadi kucing rumah sampai beli sampo khusus kucing segala, eh, si Mamake melotot penuh ancaman uang saku enggak turun. Akhirnya yaa tetap cuma kasih makan sebisanya, dikasih izin masuk rumah, tapi tiap malam harus out. 
Sampai awal Desember ketahuan kalau si belang telon hamil!
Nah loh, anak siapa?
Enggak-enggak, bukan itu persoalannya. Kucing kalau sudah rutin dikasih makan, pasti datang terus, kan? Apalagi posisi hamil. Dia sudah tahu ada tempat yang menyediakan makanan, plus aman nyaman buat melahirkan dan menyusui si anak nanti. Antara siap-nggak siap, nih, soalnya belum pernah pelihara hewan, mana tiba-tiba langsung lebih dari satu. Bikin dilema. 
But then, i decided to help with provide for some birthing needs. Pikirku kasihan kalau si Belang Telon harus cari tempat lagi sedangkan perutnya sudah besar sekali! –got me started wondering how many babies were in her tummy~ 
Sampai tanggal 11 Januari 2021 (tanggal cantik bet kek lagu GIGI). Sekitar jam lima sore, si Belang Telon yang masih tanpa nama mulai gluset-gluset di kaki, terus pindah ke sajadah, pindah lagi ke keset kamar mandi. Waduh, apakah ini pertanda? Aku coba arahin ke tenda-tendaan mungil kandang buat dia main sedari awal.
Beneran, kan, doi lahiran.
Enggak catat jam detailnya, sekitar setengah sepuluh malam dengar suara ngeong-ngeong bayi kucing, masih lirih banget. Cuma berani ngintip, si Belang Telon juga tampak tidak ramah untuk dibantu. Ya sudah, sementara biar mereka kentjan sebagai anak dan emak.
Panggil doi Smuti~

Besok paginya (12/01), tampak empat bayi mungil lagi cuddle satu sama lain. Warnanya oren, oren putih, semi abu, dan hitam. Emaknya juga udah enggak overprotektif, sudah bisa jalan-jalan malak babunya minta makan. Wait, sejak kapan resmi jadi babu?
Dua hari pertama, masih aman. Paling kaget liat porsi makan-minum si Belang Telon jadi luarrr biasa. Faktor menyusui mungkin, ya? Empat anak, loh!
Drama dimulai ketika malam hari ke tiga. Tiba-tiba (atau aku yang enggak notice dari awal), anak warna abu-nya enggak dikasih susu sama Belang Telon. 
Panik!
Mana katanya bayi kucing enggak boleh dipegang, kan? Nanti ibunya ogah nenenin karena sudah bau manusia. Bingung dong. Tanya sana-sini ke teman-teman yang paham betul soal kucing. Akhirnya dapat saran buat kasih bayinya susu, tapi karena sudah malam dan toko pasti pada udah tutup, jadi terpaksa tunggu sampai besok. Sementara cuma bisa coba uyel-uyelin si bayi ke induknya. Sampai jam 1 pagi, induknya kaya enggak ada masalah, dia masih mau-mau aja menjilat si bayi. Kupikir, okelah sudah aman. 
Hari keempat. 09.00 pagi. I found out that the baby already stiff, di pojokkan dan mulai dikerubung semut. Sama sekali enggak terlihat emaknya, jauh dari saudara-saudaranya lagi nggeruntel di pojok yang lain. Nangeeeessssssssss! 
Kok cepet banget, sih? Aku belum sempat coba beli susu, loh T.T 
Sedih. Sambil kuburin, cuma bisa minta maaf belum bisa jadi nenek yang baik. Selamat jalan, Brunet:'(

Later on: The Three Musketeer.

Geng komplek
Masuk minggu kedua, si Belang Telon mulai cari-cari tempat baru buat para bayi. Dari tenda mungil, pindah ke kardus kulkas. Di minggu kedua bayi-bayi sudah mulai melek, ngeong-ngeong lebih keras cari mamanya, mereka juga punya nama: Tacos, Rajja, dan Dot. 
Setelah tragedi Brunet, aku jadi lebih protektif sama si bayi-bayi. Tiap hari kupantengin, takut Belang Telon enggak kasih susu lagi atau ternyata malah bayinya yang enggak mau nyusu. Alhamdulillahnya aman, lalu ibunya kuberi nama: Smuti.
Kukira kebiasaan pindah tempat tinggal cuma sekali, eh ternyata pas masuk minggu ke tiga, Smuti masih aja pindah ke kardus lain, mana sebelumnya di luar rumah, minta masuk ke dalam. Begonya aku, kardusnya balik aku taruh garasi, padahal sering angin kencang terus hujan. Mohon dimaafkan ini babu newbie kentang.
Mungkin ini teguran gegara pindahin bayik keluar rumah di tengah cuaca enggak nentu. Akhir minggu ketiga mata Rajja ada item-itemnya. Sejenis kotoran bikin dia susah melek, bahkan enggak bisa melek sebelah. Waduh, apalagi ini?! Tanya sana-sini, sampai konsul ke dokter hewan via aplikasi. Ternyata dia belekan parah yang kemungkinan infeksi, jadi harus dibersihkan dua kali sehari plus dikasih obat tetes mata.
Semenjak itu, semua bayi beserta emaknya masuk rumah. Takut belum kuat fisiknya sudah harus dihantam hujan angin nyaris tiap hari. Mungkin suhu ruangan juga berpengaruh, ya? Dari sebelumnya cuma minum susu terus tidur, dibawa masuk si bayi-bayi mulai lincah tonjok-tonjokan satu sama lain. How cute!
11 Februari 2021, si mungil-mungil pas berusia sebulan. Sudah bisa jalan keliling kandang, bahkan hometour, dan enggak mau tidur di kardus. Sudah bisa coba-coba minum air dari tempat minum emaknya, meski seringnya masih keselek karena kesedot pakai hidung. Bahkan sudah bisa makan wetfood disuapi pakai jari. 
The real challenges comes true. Sudah bisa minum, sudah bisa makan, berarti sudah bisa pipip dan pupup. Waktunya untuk potty training! Dengan ilmu NOL putul kaya aku, ini susah, serius! Si Dot sama Tacos contohnya, waktu dikenalin ke litter sand bukannya pipis malah dijilat, dimakan sampai bunyi ‘krauk-krauk’. Apa tidak bikin parno, Pemirsa? 
Cerita belajar makan, minum, dan pipip-pupup di litter box ini masih berlanjut, doakan semoga Dot, Tacos, dan Rajja sehat dan bisa istikamah buang air di tempat seharusnya, ya!
Terima kasih buat teman-teman sefrekuensi soal kucing, yang pada mau direpotin nyaris tengah malam waktu aku panik Brunet kenapa-napa. Juga para babu atau pawrents yang sharing banyak hal di autobase Twitter khusus dunia perkocengan. Babu newbie ini jadi bisa banyak dapat ilmu baru. Sehat dan sejahtera selalu babu dan majikan di manapun kalian berada:))))
Share
Tweet
Pin
Share
6 komentar

Pantai Kasap Pacitan
Pantai Kasap dari Tepi Tebing
“Met, depan belok kanan, ya!” ucapku sedikit keras, diadu bunyi knalpot dari beragam kendaraan yang lalu lalang. Tepat di perempatan besar, Bamet melajukan motor sesuai arahan. Sedikit hening, mungkin aku dan Bamet sama-sama mulai lelah. Sudah dua jam perjalanan, tetapi sepertinya tujuan masih sangat jauh dari depan mata. Mana sinyal mulai datang pergi sesuka hati. 
Satu jam kemudian, sinyal peta digital benar-benar hilang saat kami dihadapkan pada pertigaan jalan. Tanpa petunjuk, hanya ada derik hewan bersahutan kencang di antara bukit-bukit hijau yang menjulang sepanjang mata memandang. Waduh!
“GPS masih nyala?”
“Masih, tapi nggak gerak-gerak.” keluhku. 
Bamet menepikan kendaraan, mengambil alih ponsel yang sedari tadi menjadi penunjuk jalan. 
Kali ini benar bukan aku yang tidak pandai membaca arah. Sebab semenit berlalu, Bamet masih berkutat dengan peta tanpa ada tanda baik. Akhirnya Ia memutuskan mengambil jalur kiri. Toh, pilihannya hanya dua: kalo nggak nyasar, ya nyampe. Beruntung kami berpapasan dengan seorang warga yang berbaik hati menjelaskan bahwa kami harus putar balik, mengambil jalan satunya. 
Tidak lama setelah kejadian maps mati, kami tiba di loket karcis Watu Karung yang menjadi pintu masuk kawasan Pantai Kasap. Setelah membayar lima ribu rupiah per orang, aku, Bamet, dan tentu saja si Motor Merah disilakan masuk, melewati jalur beraspal yang cukup kecil jika dilalui mobil. 
Terlalu bersemangat segera bertemu laut, lagi-lagi kami salah melewati pertigaan, justru menuju gerbang keluar kawasan wisata. 
“Pertigaan tadi, itu, Mas, ambil kanan.” ucap penjaga gerbang mengarahkan kami menuju jalan sama kecil seperti sebelumnya. Menyusuri tepian Sungai Cokel berhiaskan pohon rindang melambai, ditambah deretan kapal nelayan yang sedang bersandar. Seketika udara sejuk berhembus menggantikan penat di kepala yang sedari tadi pusing menahan beban helm. 
Sungai Cokel Pacitan
Muara Sungai Cokel  
Toilet dan Cerita Pemilik Homestay 
Setelah empat jam perjalanan membuat boyok berteriak, tempat yang ingin kami serbu tentu saja toilet. Namun sedih, berderet toilet di dekat lokasi parkir terlihat terkunci. Perlu 300 meter hingga bertemu fasilitas buang hajat lengkap dengan toko buah tangan yang buka. Seorang ibu paruh baya menyapa sambil tersenyum ramah. 
“Mari mbak istirahat dulu. Dari mana?” 
Tak perlu menunggu lama, banyak cerita mengalir dari obrolan antara aku, Bamet, dan ibu yang ternyata pemilik homestay di samping warung tempat kami nongkrong. Tentang turis-turis lokal yang kebanyakan dari Jogja-Solo, tentang bagaimana warga lokal bergotong-royong membangun-menjaga kawasan Pantai Kasap, hingga pandemi yang berdampak sepinya pengunjung wisata.
“Di sini ketat, Mbak. Kemarin ada tamu mau menginap, tapi dari tempat asal udah ndak enak badan. Nggak dibolehin sama Bapak. Karena Bapak juga ketua Pokdarwis, jadi disuruh balik.” kata beliau miris, “Saya ya butuh duit, tapi kalau sakit begitu kan bahaya juga. Mending nggak dapat duit daripada-daripada.”
Aku dan Bamet yang mendengarkan mengangguk serempak sembari merapatkan masker, sadar diri masih suka lengah tentang covid.
Pantai Kasap Pacitan
Pantai Kasap Pacitan
Terik matahari siang masih menyengat saat aku dan Bamet bergeser ke warung makan di tepi tebing tinggi yang menghadap ke laut lepas. Segelas es lemon tea bersanding kentang goreng menjadi teman bengong sembari menunggu langit meredup untuk berenang. Sedangkan Bamet masih asyik mengupas kacang rebus pemberian Ibu Pemilik Homestay.
“Met, ayo main cari pasangan kulit kacang yang udah dibuka ini.”
“Dih, gabut amat.”
Dua menit kemudian, Bamet justru lebih sibuk mencari dan menyatukan kembali pasangan kulit kacang yang sudah tercerai berai. Kami berlomba banyak-banyakan membuat kulit kacang rujuk. Tentu saja, dia menang, aku terlalu gengsi mengakui dia bisa lebih cepat dari aku yang memberikan tantangan. Nggak penting emang, tapi dia mau aja :') 

Pasir Putih, Karang, Debur Ombak Pantai Pribadi 

Tepi Pantai Kasap
Kecil sekali manusia.
Di sudut timur pantai, langit sumringah cerah mendadak berubah sendu saat Bamet sudah siap mencemplungkan diri ke pantai. Gelombang yang tinggi semakin lengkap dengan hembus angin kuat. Agaknya kami bisa melihat hujan telah turun deras di tengah laut sana. Sedih. 
Bamet pun mengurungkan niat basah-basahan. Berdua memilih menikmati debur ombak dari tepian, menjejak membenamkan kaki-kaki telanjang di butiran pasir pantai, sembari merekam satu persatu memori melalui lensa kamera. 
Hening. Tidak ada obrolan di antara kami. Sibuk menikmati gulungan air yang silih berganti, berbuih, dan menyejukkan pikiran. Sesekali berdansa menghadap lautan, berlarian melempar keluh kesah agar hilang tenggelam di tengah samudera sana. Menenangkan sekali. 
Mungkin karena bukan akhir pekan, ditambah pembatasan sosial yang berlangsung di beberapa kabupaten membuat tak banyak pengunjung yang datang hari ini. Kebun di pinggir pantai pun tampak kosong ditinggal petani kembali ke rumah masing-masing. Hanya ada aku dan Bamet bermain bersama ombak serta sepasang kekasih yang mulai mendirikan tenda di sebelah yang lain.
Sore yang menyenangkan. Sebelum (lagi-lagi) kami harus berlarian meneduh sebab hujan turun deras tanpa ampun.
***
Bonus foto Sungai Cokel pas enggak turun hujan~
Sungai Cokel Pacitan
Sungai Cokel
Ps. ada wisata susur sungai di kali yang cakeup ini, lain kali harus nyoba! ((kemarin enggak coba karena harus segera pulang T.T)) 

Share
Tweet
Pin
Share
4 komentar
Newer Posts
Older Posts

Kenalan, yuk!

Kenalan, Yuk!

an earth-based storyteller who loves to write randomly.

kenal lebih jauh

Catch me on:

  • twitter
  • instagram
  • pinterest

Kategori

Jejak Rekomendasi Sambat Taktik anabul cariyos catatan

Space Ads

soon

Last Update!

Babu 101: Yang Perlu Kamu Siapkan Saat Hendak Pelihara Kucing

babies.  Masih dalam episode menjadi babu magang yang berusaha memahami kucing secara otodidak. Kali ini aku mau berbagi guide-line dasar a...

Blog Archive

  • ▼  2021 (5)
    • ►  Maret (1)
    • ▼  Februari (2)
      • Nano-Nano Satu Bulan Jadi Babu Kucing!
      • Kulit Kacang Pantai Kasap Pacitan
    • ►  Januari (2)
  • ►  2020 (7)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (1)
    • ►  September (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2019 (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2018 (5)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)

Unggahan Populer

Diberdayakan oleh Blogger.

Yuk, jadi sahabat pena!

Nama

Email *

Pesan *

Bagian dari:

Blogger Perempuan
”blogger
1minggu1cerita

Laporkan Penyalahgunaan

“We write to taste life twice, in the moment and in retrospect.”

― Anais Nin

jeneruri.com copyright contents © 2021 | theme created by ThemeXpose