• Beranda
  • Cariyos
  • Catatan
    • Life Hacks
    • Anabul
    • Sambat
  • Jejak
  • Porto
facebook instagram pinterest twitter

a side of unseen life

ruang bertemu makna, lewat untaian kata

Sekali lagi kita sedang penat. Liburan memang telah dekat, tapi ujian lebih dulu merapat. Sayang seribu sayang, malas selalu menjadi sekat ketika mendulang semangat. Yasudah, mari kita jalan-jalan. Toh, ini tanggal 17!
14:30

Aku mengeluh, kamu juga. Untuk desain yang ditolak, teman yang tak ambil peran mengerjakan tugas, juga daftar pekerjaan rumah yang sama sekali belum tersentuh. Ah, bagaimana ini? Sedang minggu ujian sudah datang selang satu hari lagi. Tiba-tiba kacau.
Dan diantara penat, kamu berkelakar:
Ayo hutan pinus!
Yang benar saja, Bambang! Aku tersedak. Hendak menyangkal tidak tapi kelu. Yang terjadi berikutnya adalah aku dan kamu diatas motor yang melaju pasti menuju jalan Imogiri. Aku setuju. Susah sekali menolak ajakan melarikan diri –auto dicoret dari daftar mahasiswa teladan.
Udara segar melambai bersamaan dengan jalan berlikuk menanjak. Hujan membuat pinus mekar sehijau-hijaunya. Rindang. Sesekali bau asap bakaran ranting dan daunan menyeruak, menambah syahdu hari senin yang tetap menyebalkan.
Aku tertawa, kamu pun begitu.
Menertawakan diri yang asik lari melupakan tanggung jawab. Sebelum pontang-panting sesak kehabisan alasan untuk bermalas-malas.
Sudah sampai. Kita tidak lupa parkir, dan salat asar. Sebelum berkeliling membaca satu persatu warung demi jadah tempe yang ternyata hanya ilusi. Akhirnya, tanpa makanan kita berlalu. Memasuki tanah merah becek dengan anak tangga yang menjulur kebawah.
“Happy anniversary!”
Tidak ada yang lupa dari kita. Seketika mengingat memoar satu tahun lalu di pesisir pantai selatan. Lucu ya. Kamu berdiri malu, glonyar-glonyor, mengungkapkan, dan aku yang hendak kabur bahkan sebelum kamu bilang.
Kita tertawa, lagi, dan lagi.
Mengulang cerita satu tahun yang berlalu.
“Pertama kali shopping bareng tuh!”
“Di mana?”
“Beringharjo, kan?”
Kamu tertawa membenarkan.
“Iya, ngehibur kamu tu bete gegara sepatu ilang.”
“Hehehe makasiwwwww!”
“Terus habis itu kemana?”
“Taman Pintar donggg. Padahal lagi ospek pondok.”
“Hahaha.”
Tapi kemudian kita seperti lelah tertawa. Hening. Teringat jadah tempe. Aku lapar. Kamu bilang ingin ngemil. Kompak sekali, bahkan si perut ikut janjian mabar -makan bareng.
“Mau makan apa?”
Nah, kecolongan! Harusnya aku yang nanya biar kamu yang jawab. Karena lapar membuatku lemot berpikir.
“SOTOOOOOO.”
“Soto ter000s.”
Selalu protes. Padahal susah payah aku menjawab.
“Yaudah sate?"
“Kemarin udah taichan.”
Aku mengangguk, benar juga.
Lama sekali hendak memilih makan apa.
“Steak?”
“Bokek.”
“Seafood?”
“Masa kudu balik timoho?”
“Lah, emang harus?”
“Ya kagak.”
“Lah, Bambang ngajak ribut?”
Sudah mengerti betapa riwehnya kita memilih makanan?
“Magelangan Pathuk?”
Usulku sekian kalinya.
“Wah, jauh!”
"Tapi mau?”
“Kamu mau?”
“Mau.”
“Yaudah ayo!”
“Lah, jauh.”
“Gimana, sih?”
“Gausa wis.”
“Tapi mau?”
“Mau lah.”
“Yaudah ayo.”
“Nanti kamu capek.”
“Ya emang capek.”
“Yaudah gausah.”
“Katanya mau.”
“Ahelah yaudah ayo!”
Jadilah berangkat menyusuri jalan Pleret-Pathuk demi sepiring magelangan porsi kuli. Mantab. Imaji terus membuat perut keruyukan.
"Aku nyetir.”
“Gak, ngapain!”
“Hala pengen.”
“Nanti aja, di jalan raya.”
“Lah malah gamau kalo itu.”
“Iya udah gausah.”
“Ayo talaaaaaaa! Mumpung adem hehe.”
“Iya udah iya kamu nyetir.”
Akhirnya, aku memegang kemudi dari Becici  menyusuri Jl. Pengger. Lagi-lagi kamu mengalah, selalu mengalah dengan aku yang keras kepala. Sabar sekali. Sampai aku bingung, ini lelah atau pasrah.
“Dah sampe, nih!”
“Hlah cepet.”
“Menurut nganaaaa.”
Sepi. Baru ada aku dan kamu juga bapak penjual yang semangat sekali menyambut tamu datang.
17:23
“Ditunggu bentar ya, Mba, Mas.”
“Lama juga gapapa, Pak!” Katamu, sombong.
Duduk di ujung. Menikmati tepian jurang dengan matahari hendak tenggelam dan lampu-lampu kota yang bebarengan menyala. Manis sekali.
Seketika lupa kalau lusa sudah harus ujian akhir semester. Tapi tak apa, toh ini tanggal 17.
“Cie, anniversarynya dinner."
“Failed-anniversary.”
"Kok failed?”
“Kan putus kemarin.”
“Kan udah balikan?”
“Emang udah?”
“Udah, kok!”
“Iyapo?”
“Kan.. kan..”
Aku terkekeh. Sejurus kemudian mengarahkan kamera menangkap momen kamu dengan latar hamparan kelap-kerlip lampu.
17:50
“Edehhh, lama bener!”
“Laper, ya?”
“Ho oh! Kamu sih bilang boleh lama.”
“Lah, katanya mau nunggu maleman.”
“Tapi ini kelewat lamaaa!”
“Sabar duh, Jenab!”
“Laperrrrrr!”
Mungkin bapaknya tau kita butuh waktu lebih untuk bersenda gurau. Lagi-lagi menertawai hidup yang kadang sama konyolnya dengan Spongebob. Juga bapaknya tau, kita tidak boleh melewatkan sunset dari balik bukit.
"Itu Amplaz!"
"Ngawur!"
Menunjuk kerlap-kerlip di langit yang mulai menjadi biru gelap.
"Itu pesawat."
"Bukan ya, bintang."
Sekiranya aku benar, itu cahaya bintang karena tidak bergerak dari tempatnya. Tapi kemudian aku membiarkanmu menang, posisinya berubah, ternyata itu pesawat hendak landing.
Demi magelangan porsi kuli! Aku sudah kelewat lapar!
"Nyel?"
"Be?"
"Bek."
19:21
"Permisi, Mbak.."
Akhirnya, Pak! Setelah penantian yang panjang, kau datang dengan dua piring magelangan! 
"YE MAKAN YE!"
Bukan lomba makan, tapi kamu habis duluan. Mengejek, katamu aku lama kalau makan, lalu mendukung menghabiskan porsi kuli. Semakin malam semakin dingin, tapi aku semangat makan. Yang penting aku senang, kamu juga.
Setelahnya kita bercerita, panjaaaaaaaaaang sekali. Banyak hal yang belum aku tahu dan kamu belum bercerita. Aku belum mau pulang sampai ceritamu habis, tapi kamu enggan mendengar lebih banyak, katamu takut kalau-kalau cemburu. Padahal aku lebih cemburu, haha.
Yasudah, terlalu panjang. Sampai Mas-Mas samping enggan menguping. Malam makin dingin, angin berhembus kencang. Seperti memanggil meminta segera kembali pulang.
Terima kasih untuk hari absurdnya!
20:30
"Eh, dah setengah 9!"
"Lah, masa?"
Perempatan Giwangan terpantau ramai lancar. Tidak ada Polisi patroli. Masih banyak yang tidak memakai helm. Yang penting kamu pulang hati-hati.
Selamat hari aneh hari jadi!
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Selasa sesak membosankan. Kuliah-tugas-ukm-bernapas-makan. Kewajiban-kewajiban-pilihan-kewajiban-kewajiban. Satu opsi nyempil diantara padatnya tanggungan, dan selanjutnya berubah wujud menjadi suatu fardu yang harus dituntaskan. Ah, penat! Padahal, kemarin sudah jalan-jalan ke Sekaten.
Aku rindu rumah. Bukan bata dengan jendela. Rumah yang ketika aku kembali, berseru hidup! Berteriak penuh semangat, “DARI MANA AJA?!”. Yang menerima uluran tangan dan segelas susu hangat kala hujan, pun hanya tiga-empat hari seminggu, ketika mama benar-benar dirumah.
Atau yang begini, sedang menonton televisi dan tiba-tiba mati. Alih-alih belum bayar token ternyata ada pria berkopiah bulat melotot, memegang tombol merah di remot, sambil mendesis tajam, “SALAT!”. Kemudian aku terbirit mengambil air wudu, ngeri.
Pula si Ojan. Gempal menyebalkan yang seenak jidat pencet-pencet tombol power wifi cuma gara-gara, “GAME KU GA NGE-LOAD, CE!”. Tukang makan-tidur-game-makan-pup-makan-game-tidur-makan. Tapi, nggak mau cuci piring, apalagi masak. Yang sekarang makin tinggi, but, tetap belum –mau, punya pacar. 

Huh.
Apa Jogja sejauh itu, ya? Sampai sepertinya pulang harus bersabar menunggu libur panjang. Belum lagi potong hari penuh kegiatan yang tak kenal tanggal merah. Rindu di tanah rantau yang keras. Seketika merasa bodoh sekali, lari, dan menjadi pengecut yang salah pilih kandang, merasa tidak bisa apa-apa. Nahasnya, bertemu sekumpulan rekanan yang kebal telinga.
Aku mau menangis. Sekuatnya. Biar setelah itu dibilang bocah, cengeng, rapuh. Sepertinya  aku tidak peduli. 

Aku hanya sedang rindu rumah.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
source : Pinterest

Dua bulan, hampir, sudah terasa lama sekali. Sudah seperti pikun apa rasanya bertatap. Kamu yang perhatian, kamu yang sabar, yang mudah panik, dan posesif. 

Semasa berjarak, aku belajar untuk menahan sendu sendiri, mematikan rasa, dan ingin berhenti berpikir, semua tentang kamu, tentang kita. Panjang khayal agar tetiba lupa, musnah. 

Saat aku berusaha melangkah pergi, kamu berlari, kembali. Membawa sesal di punggung tangan.

Dengan ratusan pesan, puluhan panggilan, bersurat di semua jejaring sosial. Berusaha mengikis  baluarti, setitik demi setitik. Seolah tidak cukup. Kamu ada di mana-mana. 

Tapi maaf, sayang, aku terlanjur pongah. 

Angkuh membangun benteng besar bertajuk harga diri. Mengukuhkan yang ambruk, redam. Berjerih payah mengembalikan bungah. 

Sendiri.


Hela napas di dua hari yang panjang.




Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Source : Pinterest



Akhirnya aku menemukan jawaban. Mengapa kamu bungkam dan kita berjarak.

Kamu datang, langsung membantu mengemas barang. Memang janji hari ini hendak mengurus pindah tinggal. Tidak banyak bicara, seperti satu minggu belakangan. Sibuk bermain ponsel di sela mengangkat banyak kardus.
Begitu sampai, kamu membuka pintu, dan tak ada obrolan atau tawaran hendak membantu. Aneh. Serasa asing dengan kamu yang dingin. Setelah aku meminta, barulah kamu tertawa renyah sembari membantu memasukkan bawaan.
14:00
Aku berkemas, dan lagi kamu sibuk dengan ponselmu. Sampai aku bicara pun tak diacuh. Selebar inikah jarak lepas selisih argumen kita waktu itu?
“Kamu ngapain?”
Akhirnya, setelah sibukku selesai kamu datang hendak membantu.
“Udah kok cuma nutupin tasnya pake plastik.”
"Oh,”
Kamu membantu sekenanya dan pergi keluar. Kembali bergelut dengan ponsel.
“Bentar ya, nunggu yang megang kunci dulu.”
“Iya.” Jawabmu singkat.
Melihatmu yang sibuk dengan duniamu, aku memilih mengitari ruangan. Satu demi satu, seolah menyibukkan diri. Mencari perhatianmu.
Percuma.
Kamu hanya menoleh sesaat, tersenyum, menunduk.
“Pinjem hp bentar deh..”
Kamu menoleh, enggan, tapi kemudian menyerahkan benda yang sedari tadi mendapatkan perhatianmu.
Beberapa pesan grup, beberapa pesan pribadi. Aku berhenti, melihat satu nama yang tidak asing.
....
....
A : Aku pengen, tapi bingung jelasinnya gimana.
A : Masih belum siap liat dia sakit hati.
A : Ini urgent.
A : Bantu kasih dia pengertian, tolong. Bisa?
B : Kamu yang harusnya ngasih dia pengertian. Bukan orang lain.
A : ...
....
....
....
‘Oh.’
“Sini bentar, deh!”
Aku diam, berdiri tegak di hadapanmu.
“Kenapa?”
“Peluk sini, terakhir, nanti kangen gabisa peluk lagi.”
Tatapan kita beradu dalam. Seolah berbeda mengartikan apa yang hendak terjadi. Kata ‘terakhir’ terdengar tak seperti seharusnya.
“Kayak mau mati.” Jawabku singkat.
“Jangan gitu, sini aja dulu. Besok-besok udah gabisa gini lagi..”
Aku diam. Menuruti rengkuhan tangan yang menarik sarira ke pelukanmu. Luruh. Merangkai potongan demi potongan berusaha mengerti apa yang hendak terjadi.
Eratmu dingin, Sayang. Entah aku yang terbawa emosi kemarin sore atau memang begitu.
“Udah ah, jangan kayak gitu. Besok masih bisa lagi.” Aku berusaha melepas rengkuhan. Menjauh.
“Itu pun kalau kamu mau, Beb.”
Aku di sini, selalu. Kamu tahu itu.
“Deket-deket sini lagi, nanti aku kangen.”
Setitik lagi menuju banjir di pelupuk mata.
“Udah, yuk! Nanti kemaleman.”
“Sekaliiii aja. Lagi.”
Aku menurut.
Sisa sore kita habiskan berdua. Tak banyak bercengkerama. Hanya berjalan beriringan mencari oleh-oleh sebelum masa liburan tiba.
“Aku bingung mau beli apa..”
“Tas? Sandal batik? Asal ga topi.”
“Kenapa ga topi?”
“Itu bisa dibeli di luar Jogja keles.”
“Terus apa?”
“Tas karung.”
“Hmm.”
Begitu terus hingga Malioboro bertemu Titik 0 km. Sudah sampai di ujung. Hari gelap, semakin ramai.
Apa yang bisa aku lakukan untuk mengulur waktu? Diam pun tak apa asal bersamamu, menggenggam tanganmu yang dingin. Berpura-pura. 
Aku mengambil jarak, pelupuk kembali menggenang.
“Yaudah ayo makan. Mau makan dimana, Jen?”
Demi apa pun, mendengar namaku dengan suaramu sangat asing. Tidak biasanya begitu. Bahkan jika bertengkar sekalipun.
“Warung yang di Babarsari itu nggak apa..”
“Ok.”
Sepanjang perjalanan itu aku diam. Sengaja tidak mendengarkan apa pun termasuk ucapanmu. Pikiranku bergulat, separuh menyiapkan diri separuh lagi berpikir semua baik-baik saja. Seperti yang kamu bilang setiap hari.
Tempat makan tak seramai biasanya. Seolah sengaja memberi ruang untukmu, untuk kita.
Memesan makanan, menghabiskan makanan, diam. Sesekali mual karena minum susu setelah makan mi gurih. Kamu tertawa, tapi kemudian bungkam.
"Aku mau ngomong. Serius.”
Mengulur waktu belum pasti membuatmu tenang. Seharian seperti tak ubahnya satu menit.
"Ngomong aja.”
Aku memangku dagu, bersiap mendengarkan. Sekalipun belum siap, harus tetap siap. Seperti siapnya kamu mengatakan semuanya. 
Kamu menarik napas dalam.
“Kamu tau latar belakang keluarga kita yang beda, dan itu sulit buat disatuin..”
Lagi, kamu menarik napas dalam.
“Aku sayang kamu, Jen, tapi kita harus. Aku capek kudu terus-terusan sembunyiin semua tentang kita.”
Aku mengangguk-angguk, sangat paham.
“Maafin aku, aku salah, aku sayang kamu.”
Aku menarik hidung, membentuk hidung babi, mengejek.
“Serius, maafin aku.”
“Engga.”
Setelah beberapa saat akhirnya suaraku mau ikut keluar. Menahan supaya tak terdengar bergetar. Aku kuat.
Air matamu menggenang. Matamu merah, dan sepertinya sebentar lagi hidungmu tersumbat.
“Maafin aku..”
“Aku nggak mau.”
“Kenapa nggak mau?”
“Mauku gitu.”
"'Kan aku udah usaha minta maaf.”
“Iya, yang penting udah usaha kan?”
Kamu diam.
Ya Tuhan, tahan air mataku sampai aku sendirian.
“Kamu tetep bisa panggil aku kalo butuh apa-apa. Nanti, kalo memungkinkan aku bantu, ya bantu.“
Aku mengangguk.
“Sayang...”
Mendengar panggilanmu seperti mencengkeram dada, nyeri. Aku bisa merasakan tanganku gemetar, kakiku terus bergerak, dan nafasku tertahan. Apalagi yang bisa kuusahakan agar pertahananku tak runtuh di depanmu?
“Iyaaa gapapa. Santai. Kudu saling ngerti kan? Aku udah tau.”
Dua alismu bertaut, heran?
“Aku baca pesanmu sama si B, lupa kamu hapus.”
Segera kamu memeriksa ponselmu. Dan benar saja masih ada history pesan yang aku maksud.
"Ya Gusti, maaf. Aku nggak niat apa-apa. Cuma minta saran. Dia temen deketmu.“
Aku mengangguk, berusaha menerima. Bahkan kamu lebih percaya pada temanku daripada berbicara langsung padaku, Sayang.
“Iya. Santai.”
Pandanganmu beralih, masih dengan mata merah.
Lucu, hidungmu kembang-kempis.
Ya Tuhannn! Mulai esok wajah di depanku akan jauh. Tak lagi menatap setiap pagi. Jarinya bukan lagi menggenggam tanganku. Sarira tak bisa lagi memeluk tiap duduk di kursi belakang motor. Tidak lagi memutari Jogja berdua.
“Gausah nangis sih, kaya sedih banget.” Aku menceletuk memecah hening.
“Ah,”
Aku bisa melihatmu mengusap air mata walau hanya menempelkan tisu di wajah.
“Toh kita masih temen. Temen baik.”
Seperti yang kubaca di pesanmu, kamu ingin kita tetap berteman baik. Bukan begitu?
“Udah ah, ayo balik!”
Kamu mengangguk. Berdiri. Dan mengikuti berjalan meninggalkan tempat makan.
Duduk di boncenganmu, Sayang, mungkin menjadi hal paling menyenangkan setelah aku mengenal Jogja dengan kamu di dalamnya. Menyusuri jalanan Jogja dari Utara hingga Selatan menjadi pengalaman yang tak pernah bisa dilupakan, pasti. Tapi, malam ini, kamu membuatnya biru. Enggan duduk di sana, yang setelahnya aku tahu, pasti berpisah. Kamu mengatakannya tepat sebelum libur semester tiba. Katamu, biar aku bisa menyenangkan diri dalam dua bulan. Tak apa, setidaknya kamu baik hati memberikan waktu luang yang panjang, tanpa kamu.
Warung mi itu seperti saksi bisu, betapa aku harus kuat menahan air mata di depanmu.
“Nanti kalo kangen, bilang, gausah  gengsi.”
“Dih, ngapain kangen?”
“Biasanya kan gitu, move on butuh proses.”
Aku mengangguk, “Iyain aja, biar mantan seneng.”
“Jen?”
“He em?”
Kamu menarik napas, “Move on-nya jangan cepet-cepet ya?”
“Nanti sakit, liat Jejen sama yang lain. Hehe.”
Mendungku berubah menjadi tetesan gerimis. Pertahananku ambruk sebentar lagi, tahan.
“Paling juga kamu yang dapet gandengan baru duluan.”
“Doain aku biar tetep sendirian.”
Aku mengangguk, walaupun yakin kamu tak bisa melihatnya.
Waktu seakan berjalan cepat. Setelah obrolan di warung tadi, seperti membuat kita kembali saling mengenal. Bercengkerama, sebagai mantan.
“Aku sayang kamu,”
“Dih, apaan?!”
“Serius ini, nggak main-main!“
“Kalo nggak main-main, ya dinikahin!”
Deru angin menyamarkan suara.
“InsyaAllah, diusahakan, Neng.”
Ah, usaha menghibur yang bagus. Kamu tahu aku benci panggilan Neng. 
“Mungkin dengan kita kaya gini, bisa bikin hubunganmu sama temen-temenmu lebih akrab.”
Kamu tahu, Sayang? Saat ini, satu-satunya teman yang aku percaya begitu sangat adalah kamu. Memelukmu dalam, sembari bercerita melepas lelah kegiatan seharian. Bisakah itu tergantikan?
“Udah, ah, sana pulang!”
“Diusir, nih?”
“Iya, biar aku nangisnya sendirian. Sana!”
Kamu berusaha menggenggam tanganku. Aku mengelak, berulang kali. Tidak ada waktu lagi, kamu harus pulang!
Dan, kemudian kamu menyerah. Bersiap pulang setelah mengucap kalimat sayang dan janji esok pagi menjemput untuk mengantar ke stasiun pagi-pagi.
Aku ingat, aku tetap berjalan tenang, memasuki ruanganku, dan bersiap tidur dengan sangat normal. Berganti pakaian, mengenakan kaos kaki, menatap layar ponsel menunggu pesan. Lama. Baru kemudian pertahananku runtuh, pesan yang ditunggu tidak datang. Mungkin tidak ada lagi, atau aku yang terlalu berpikir buruk padahal kita masih teman baik? Ah, entah. Aku tenggelam, Sayang. Jauh pada pikiran tak seharusnya. Menangis lebih dari sesengukkan. Sesak.
Merubah kebiasaan, menjadi mandiri, memilih diam, menjauh.
Jadi, itu caramu membuka semuanya? Melepas simpul yang berawal Januari lalu. Keputusan terbaik, katamu. Bahkan, tidak ada yang lebih baik daripada menutup catatan kita, di tanggal lima bulan yang ke lima.


–Sancaka di perbatasan Yogyakarta-Solo, Selesai.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Source : Pinterest


Sore di kota yang sama.

Setelah kejadian tak mengenakkan kemarin. Berpapasan dengan orang asing dengan wajah dikenal. Ada apa? Seperti berpengaruh sekali dengan hari-hari kita. Mungkin iya, karena orang asing tersebut tak asing padamu.

Katamu ini berbahaya. Orang asing dengan mulut tajam tentang kita. Tidak bisa lagi menjadi rahasia. Harus berjarak. Sudah cukup waktu kita selalu berdua.

Memangnya dia sudah bercerita tentang kita pada semesta?

“Belum,” Jawabmu mengambang di tengah ramainya restoran pizza.

“Tinggal hitung waktu dan setelahnya usai.”

Aku diam. 

Ini tentang kita. Tapi kamu tidak melibatkan aku di tiap paragraf cerita. Membiarkan akal bingung menebak. 

“Kamu terlalu bergantung. Kenapa begitu?”

Ya Tuhan. Demi Sang Agung Pencipta seluruh alam, umat manusia, dan kamu.

Aku tahu. Tapi enggan menjawab.

‘Karena aku percaya ..’

Mungkin kamu belum begitu.

Mungkin kamu sedang lelah. Butuh waktu. Butuh jarak. Butuh istirahat. Enggan bicara. Asyik sendiri. Dan sedang lupa.

Atau memang aku yang tidak tahu diri.

※※※

Satu hari berpisah dengan sira, seperti hening tapi tidak tenang. Ada yang hilang dari kebiasaan. Tapi tak apa, kan aku sudah berjanji, berhenti membuatmu repot di pagi hari, tidak lagi menjadi penyebabmu terlambat karena bangun siang. Sudah, kamu sudah tenang. Hidup hidupilah pagimu dengan nyaman. Semoga aku bisa berdiri sendiri, berlarian sendiri, bersenandung sendiri. Sesekali jika boleh bersamamu, jauh di keasingan. Hendak menghirup aroma sira dari dekat. Semoga sira tidak bosan, bahkan jika nanti pesanku lebih banyak dari operator telepon. 

Pesan untuk kita, setelah dua loyang pizza dan satu kotak bananugget dengan lilin.


Yogyakarta, 29 Mei 2018
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts

Kenalan, yuk!

Kenalan, Yuk!

an earth-based storyteller who loves to write randomly.

kenal lebih jauh

Catch me on:

  • twitter
  • instagram
  • pinterest

Kategori

Jejak Rekomendasi Sambat Taktik anabul cariyos catatan

Space Ads

soon

Last Update!

Babu 101: Yang Perlu Kamu Siapkan Saat Hendak Pelihara Kucing

babies.  Masih dalam episode menjadi babu magang yang berusaha memahami kucing secara otodidak. Kali ini aku mau berbagi guide-line dasar a...

Blog Archive

  • ►  2021 (5)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2020 (7)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (1)
    • ►  September (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2019 (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Januari (1)
  • ▼  2018 (5)
    • ▼  Desember (1)
      • Hari Aneh Sedunia!
    • ►  November (1)
      • gembeng.
    • ►  Juli (1)
      • Angkuh
    • ►  Juni (1)
      • Mensive
    • ►  Mei (1)
      • Setelah Lewat Tengah Malam

Unggahan Populer

Diberdayakan oleh Blogger.

Yuk, jadi sahabat pena!

Nama

Email *

Pesan *

Bagian dari:

Blogger Perempuan
”blogger
1minggu1cerita

Laporkan Penyalahgunaan

“We write to taste life twice, in the moment and in retrospect.”

― Anais Nin

jeneruri.com copyright contents © 2021 | theme created by ThemeXpose