• Beranda
  • Cariyos
  • Catatan
    • Life Hacks
    • Anabul
    • Sambat
  • Jejak
  • Porto
facebook instagram pinterest twitter

a side of unseen life

ruang bertemu makna, lewat untaian kata

Oh, ternyata begini rasanya jadi manusia di usia 20-an?
Beragam pertanyaan dan pernyataan yang menuntut mulai menyerbu. Mulai dari “Skripsi sampai mana?”, “Enggak coba-coba kerja, ta, biar ada pengalaman?”, sampai sindiran next level macam: “Eh, Mbak, kayanya mamamu udah ngebet gendong cucu, deh!”
Gusti tolong selamatkan hamba-Mu ini:(
Tepuk tangan salut buat kamu yang sampai detik ini belum pernah merasa overthink. Aku yakin sih, kebanyakan manusia –apalagi di fase remaja otw dewasa, pasti pernah aja gitu mikir berlebih soal hal yang 'enggak-enggak'. Tentang masa lalu, yang sedang dijalani, dan paling sering, ya bayang-bayang tentang masa depan. Bisa enggak sih aku memenuhi ekspektasi dari diriku sendiri? 
Hmmm kalau dipikir bagus buat evaluasi diri atau juga merencanakan masa depan. Tapi, kalau malah tiap kosong dikit langsung melamun, justru bikin suntuk seharian. Yang awalnya niat produktif, eh malah mikir berlebih dan berujung goler sambil main ponsel doang sebagai alasan buat menghibur diri. 
Ada baiknya emang jangan ada overthinking di antara kita, lol.

Kok Bisa Sih Manusia Overthinking? 
Udah mumet berpikir yang enggak-enggak, masih kepikiran pula, hei, kenapa aku bisa overthink? 
Based on research, kebiasaan terlalu-banyak-berpikir ini bermula dari perasaan kita untuk melindungi diri dari kemungkinan-kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi. Akan tetapi, semua yang berlebih memang tidak baik, kan? Terlalu berlebih memikirkan suatu hal tanpa berfokus pada problem-solving, justru bisa mengusik kesehatan mental dalam jangka panjang.

Let's Say Bye to Overthink.
Nah, kalau sudah begini, rasanya butuh refreshing buat ngosongin otak. Tenang, ada banyak hal di dunia yang bisa dilakukan untuk mengusir beban pikiran. Walau efeknya nggak permanen, setidaknya bisa bikin fresh sejenak. 

First of all, do the ‘social media-distancing’ challenge. Ini efeknya bukan main, asli. Masa percobaan bisa dimulai dengan menghilang dalam hitungan jam. Susah? I would say yes. Sering banget berpikiran harus tetep update ini-itu, terus keep in touch sama teman-teman via WhatsAp, merasa gabut kalau nggak scroll sana-sini terus pusing liat si A B C udah pada seminar sedangkan aku punya judul aja belum. Yak curhat. Menurut penelitian yang dimuat dalam Journal of Social and Clinical Psychology, terus-terusan mengakses sosial media justru memicu rasa kecemasan, depresi, kesepian, hingga perasaan takut ketinggalan. So, let’s leave over our phone for a while, Dear. 

grounding
Kedua, breath of the fresh air. Kadang tanpa disadari, kita terlalu lama berada di dalam ruangan. Nah, ini bisa bikin jenuh, suntuk, bawaan kzzzl aja udah. Coba yuk jalan-jalan keliling komplek atau sekadar earthing alias menghubungkan diri dengan alam, sesederhana jalan tanpa alas kaki di atas rumput. Pilihan lain yang paling aku suka, ya, riding. Keliling ringroad sambil ngedumel nggak jelas atau teriak juga boleh—yang di Jogja pasti tahu feelnya—berasa beban pikiran ilang dibawa angin. 

Luapkan gais, luapkan!
Saran ketiga, ya menulis, atau berkarya dalam bentuk lain. Mungkin bisa gambar, taking foto, mix matched baju, dan sebagainya. Luapan emosi kadang bikin tulisan—atau karya yang lain—terasa lebih hidup. Bahkan sekadar menulis ungkapan hati di buku diari yang nggak ada orang boleh baca.
"Ah, aku nggak bisa bikin-bikin begituan, Jen." 
Chill, Dude. Nggak ada juri, nggak ada peserta di sini. Cuma meluapkan emosi. Cari alternatif yang sekiranya kita enjoy ngelakuinnya. Oke?

Pilihan keempat, beberes rumah. Mungkin agak gimanaaaa gitu, tapi valid, kok! Alihkan perhatian pada kegiatan yang memicu kebahagiaan. Ih wow apa bahagianya bersih-bersih rumah? Ada, ngebahagiain emak malah. Kalau kata co-director San Francisco Bay Area Center for Cognitive Therapy, menata ulang rumah termasuk mastery activities yang kalo dipikir-pikir membosankan, tapi justru memperbaiki mood karena membuat kita mencapai suatu goal. Bisa juga coba metode decluttering ala Marie Kondo, sekalian memilah barang-barang yang sudah penuh-penuhi kamar kos atau rumah, yekan?

Pengalihan dari overthinking ini bisa beda-beda tiap orang, ya! Jadi perlu tau dulu nih, apa yang kita suka, apa yang kita nggak mau. Yuk, pelan-pelan recognise our self. Semoga bermanfaat:)

Share
Tweet
Pin
Share
5 komentar
Newer Posts
Older Posts

Kenalan, yuk!

Kenalan, Yuk!

an earth-based storyteller who loves to write randomly.

kenal lebih jauh

Catch me on:

  • twitter
  • instagram
  • pinterest

Kategori

Jejak Rekomendasi Sambat Taktik anabul cariyos catatan

Space Ads

soon

Last Update!

Babu 101: Yang Perlu Kamu Siapkan Saat Hendak Pelihara Kucing

babies.  Masih dalam episode menjadi babu magang yang berusaha memahami kucing secara otodidak. Kali ini aku mau berbagi guide-line dasar a...

Blog Archive

  • ►  2021 (5)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (2)
  • ▼  2020 (7)
    • ▼  Desember (1)
      • Secuil Siasat Mengusir Overthinking
    • ►  November (1)
    • ►  September (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2019 (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2018 (5)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)

Unggahan Populer

Diberdayakan oleh Blogger.

Yuk, jadi sahabat pena!

Nama

Email *

Pesan *

Bagian dari:

Blogger Perempuan
”blogger
1minggu1cerita

Laporkan Penyalahgunaan

“We write to taste life twice, in the moment and in retrospect.”

― Anais Nin

jeneruri.com copyright contents © 2021 | theme created by ThemeXpose