• Beranda
  • Cariyos
  • Catatan
    • Life Hacks
    • Anabul
    • Sambat
  • Jejak
  • Porto
facebook instagram pinterest twitter

a side of unseen life

ruang bertemu makna, lewat untaian kata

Dari dulu, film Disney memang selalu berhasil bikin jaw drops alias melongo. Yoi, animasinya cakeup plus ceritanya berhasil bawa imajinasi ke dunia lain, jadi princess lah, renang menjelajah laut, sampai cosplay monster pun bisa. Nah, Desember lalu Disney kembali rilis film berjudul Soul, tapi bukannya dibawa jauh kaya film lainnya, tontonan ini seolah ngajakin kembali ke kehidupan nyata. Eh, gimana?
Warning! This post contains lots of spoilers. 


Menceritakan Joe Gardner yang mencintai Jazz dan berambisi menjadi pemain musik terkenal. Namun kenyataannya, ia hanyalah seorang guru musik dengan kehidupan b aja. Suatu hari, ia mendapat kesempatan mencoba bermain bersama klub jazz milik Dorothea Williams –i bet she is a famous tho. Saking senangnya, Joe malah kecelakaan kemudian membawa jiwanya ke Great Beyond alias alam baka. 
Dia berusaha kabur. Usahanya ini membuat Joe nyasar ke alam sebelum penciptaan, lalu bertemu si 22 yang menolak meninggalkan Great Before. Joe bertugas sebagai mentor bagi 22 untuk menemukan sparks agar ia mendapatkan ‘stiker’ yang artinya siap bakal kehidupan di bumi. Apakah mudah? Tentu tidak pemirsa. Si Twenty-Two ini sudah pernah dimentori arwah orang-orang terkenal, dari Mother Theressa, Muhammad Ali, hingga Copernicus, tapi tetap saja enggak mempan. 
Keseluruhan film setelahnya merupakan perjalanan Joe Gardner bersama 22 bersekongkol  menemukan sparks. Namun, hal tidak diduga kembali terjadi, Twenty-Two justru masuk ke tubuh Joe, sedangkan jiwa Joe nyasar ke kucing. Di bumi, mereka berusaha mencari Moonwind si petapa agar mengembalikan jiwa Joe ke tubuh seharusnya. Selama itu pula, 22 merasakan bumi secara nyata, ia bisa mencium harum piza, berjalan menggunakan kaki, bahkan merasakan hembus angin hingga daun jatuh ke telapak tangan, hal yang tidak ia dapatkan selama di You Seminar. Joe –dengan jiwa 22, juga berhasil menjelaskan impian tentang jazz pada ibunya yang selama ini menentang keinginannya. 
Baru saja menyukai bumi, 22 dan Joe dijemput paksa oleh Terry –sebut saja ia malaikat penghitung nyawa orang mati. Terry menemukan kejanggalan bahwa Joe harus kembali ke alam baka. Herannya, 22 berhasil menemukan sparks sehingga ia berhak atas stiker kehidupan. Joe yang keberatan kembali ke Great Beyond berkata bahwa 22 mendapatkan stiker karena berada di tubuhnya, 22 tidak mempunyai tujuan, ia hanya menumpang sparks Joe yakni piano. Twenty-Two menyerahkan stiker kehidupannya lalu berubah menjadi lost-soul –jiwa yang terobsesi pada sesuatu, sedangkan Joe kembali ke bumi.
Lantas, apakah Joe berhasil melakukan konsernya, bagaimana nasib poor Twenty-Two?
Better you stream on Disney+ Hotstar (wink). 
whatsondisneyplus.com

Walaupun nontonnya agak telat, film ini beneran nampol aku banget. Menyadarkan diri sendiri dengan kesimpulan-kesimpulan sederhana. Kalau hidup itu harus dirayakan! Caranya? 
1. You can make the dreams comes true, but still, calm down
Joe Gardner merupakan pekerja keras. Ya. Ia mencoba apapun demi menjadi pemain jazz. Meski sering mendapat penolakan, ibunya nggak mendukung, bahkan ia memaksa untuk kembali dari akhirat demi bisa bermain musik yang ia inginkan. So, i guess we learned a lot about chasing dreams from Joe.
Akan tetapi, ia jadi serba terburu-buru. Membuat diri lupa menikmati momen yang ada, menghayati segala proses yang perlu ditempuh dan ditempa saat mewujudkan apa yang ia mau. Yang baru Joe sadari ketika dirinya harus kembali ke alam kematian. Agak telat, kan? 
2. Small things matters
Hidup terasa monoton, bangun-mandi-kerja-makan-tidur, udah begitu doang. Padahal sehari-hari selama hidup, aslinya lebih dari itu, loh! Saking seringnya mengulang hal yang sama, kita jadi lupa gimana rasanya ‘pertama kali’. 
Maybe we should try like Twenty-Two, ketika ia bisa menikmati sensasi mencium bau, menggerakkan kaki untuk berjalan, atau sesederhana merasakan hembus angin. Ia merasa bersemangat! Hal-hal biasa yang sering kali terlewati begitu aja, bisa sangat bermakna dan mampu mengubah persepsi dari yang enggak mau turun ke bumi, jadi enggak pengen ninggalin bumi. 
3. Hati-hati dengan kata-kata
“You being selfish, no one would ever wants to be around you! “Looser, you’re not good enough! “Walk is not a purposes you idiot! Its just a regular living! This is wasted time! You have no purpose!” kata para mentor pada 22. 
Bikin down banget, kan? Emang paling bener hindari ngucapin kata-kata negatif gini, entah ditujukan pada orang lain atau diri sendiri. Lebih hati-hati mengolah kata, ingat: pilih berucap baik atau diam. Kita emang nggak bisa mengontrol orang lain, tapi seenggaknya kita bisa mengondisikan diri sendiri biar nggak jadi sama menyebalkan kaya Paul. 
4. Mendengar lebih, peduli lebih
Selama ini Joe berpikir Dez memang terlahir menjadi tukang cukur, sebagaimana ia terlahir untuk memainkan jazz. Setelah mau mendengar, Joe dibuat terperangah karena cita-cita Dez sebenarnya adalah jadi dokter hewan.
Cerita Dez dan Joe seolah ngasih tahu lagi kalau diri ini bukan poros dunia berputar. Masih banyak hal yang belum diketahui, jadi masih banyak cerita yang harus didengar dengan penuh perhatian. 
I heard this story about a fish. He swims up to an older fish and says: “I’m trying to find this thing they call the ocean.” “The ocean?” the older fish says, “that’s what you’re in right now.” “This”, says the young fish, “this is water. What I want is the ocean!” –Dorothea Williams, Soul.
5. It's OK to ask for help
Kaya jiwa yang digambarin di film Soul, manusia kadang terlalu asik sama hal yang disukai, atau saking bingungnya ambil keputusan terus nggak mau nanya ke orang yang tepat, akhirnya nyasar ke unknown place. Malah jadi lost-soul deh. Ada hal-hal yang memang harus diselesaikan sendiri, tapi banyak juga yang perlu minta bantuan orang lain.  Nggak papa, namanya juga makhluk sosial.  


About 22.
Since this post isn’t a review so, let me share what i think about this character. 
Ketika nonton film ini, entah kenapa aku membayangkan Twenty Two sebagai representasi manusia di usia yang sama. Berada di ambang antara ingin tetap dalam zona nyaman, tetapi dituntut segera menghadapi hidup. Banyak usaha dilakukan demi memunculkan sparks yang tentu saja sering kali gagal, bahkan meski sudah bertemu outstanding mentor yang mengajarkan serta memberi motivasi. Sampai akhirnya, 22 sendiri yang harus berani mencoba. And, she did! Ia berhasil menemukan sparks-nya setelah keluar dari dunia imajinatif You Seminar dengan merasakan dan menikmati hidup di bumi. 
As 22, mungkin ke depannya hanya perlu nekat mencoba keluar dari angan-angan. Sehebat apa pun mentor yang ngajarin, kasih motivasi sampai mulut berbusa, ujung-ujungnya tetap diri sendiri yang harus berani eksekusi. Dikit-dikit, pelan-pelan, kalo capek istirahat. Yok, bisa, yok!
Share
Tweet
Pin
Share
8 komentar
Ranu Manduro, Mojokerto
Mengingat lagi. Bagaimana kala itu kamu, aku, kita mengakhiri 2019 dengan penuh semangat membuncah. Bersiap mengubah deretan panjang harap dan rencana menjadi kenyataan. Imaji tentang perjalanan jauh, mencoba pekerjaan baru, atau sesederhana melanjutkan apa yang seharusnya telah tuntas. Tahun baru, kesempatan baru. 
Sebelum ... 
All these pandemic outbreaks are happening and we’re being locked in our own home. 
Tenang yang terusik, seketika terkurung ketakutan. Menuntut diri untuk terbiasa akan hal aneh di luar tata cara hidup yang seharusnya. Menghirup udara sesak seolah berebut oksigen dengan monster. Terus menggantungkan pertanyaan tanpa jawaban pasti tentang kapan kondisi menyebalkan ini segera berakhir? 
Tentu saja, 2020 tidak sesuai ekspektasi. Ia menamparku untuk berkawan dengan kekecewaan, membuyarkan nyaris semua angan. Menertawakanku pongah, lalu berteriak: “Kejutan! Kali ini dunia berputar di luar kendalimu!”
Pupus berlayar jauh ke Utara Indonesia, memendam dalam bayang merasakan rantau ke Ibu Kota, susah payah mempertahankan yang rapuh diterjang jarak, juga upaya-upaya berdamai dengan diri sendiri. Menenangkan jiwa kecil yang terus meronta di tengah pandemi. Sepertinya Sang-Khaliq sengaja menjegal langkahku di awal. Membuatku limbung nyaris tersuruk, merengek, menangis sesenggukan.
Meski kesal, setelahnya harus kusadari, ceritaku bukanlah kisah paling menyedihkan. Aku patut mengucap syukur, tentang bagaimana ajaibnya Tuhan memberikan jawaban akan banyaknya keluhan yang sengaja atau tidak terpeleset dari mulut seorang hamba ini. Nyaris terpikir tidak adil, padahal Dia sedang melindungi anak manusia dari kekecewaan yang lebih dalam. Mengganti tangisan cengeng melalui cara-cara aneh yang tidak terduga.
Lalu, yang tersisa hanyalah renungan. 
Berbisik terima kasih pada 2020. Meski tidak mudah, ia berlalu dengan beribu pelajaran. Perlahan menuntun untuk bertumbuh lebih baik, menjadi aku yang lebih banyak bersyukur. 
  —Kebun Teh Nglinggo, Dec 2020.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

Kenalan, yuk!

Kenalan, Yuk!

an earth-based storyteller who loves to write randomly.

kenal lebih jauh

Catch me on:

  • twitter
  • instagram
  • pinterest

Kategori

Jejak Rekomendasi Sambat Taktik anabul cariyos catatan

Space Ads

soon

Last Update!

Babu 101: Yang Perlu Kamu Siapkan Saat Hendak Pelihara Kucing

babies.  Masih dalam episode menjadi babu magang yang berusaha memahami kucing secara otodidak. Kali ini aku mau berbagi guide-line dasar a...

Blog Archive

  • ▼  2021 (5)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (2)
    • ▼  Januari (2)
      • Disney Soul: Sebuah Pengingat Merayakan Hidup
      • 2020: a (Short) Retrospect.
  • ►  2020 (7)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (1)
    • ►  September (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2019 (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2018 (5)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)

Unggahan Populer

Diberdayakan oleh Blogger.

Yuk, jadi sahabat pena!

Nama

Email *

Pesan *

Bagian dari:

Blogger Perempuan
”blogger
1minggu1cerita

Laporkan Penyalahgunaan

“We write to taste life twice, in the moment and in retrospect.”

― Anais Nin

jeneruri.com copyright contents © 2021 | theme created by ThemeXpose