• Beranda
  • Cariyos
  • Catatan
    • Life Hacks
    • Anabul
    • Sambat
  • Jejak
  • Porto
facebook instagram pinterest twitter

a side of unseen life

ruang bertemu makna, lewat untaian kata

Oh, ternyata begini rasanya jadi manusia di usia 20-an?
Beragam pertanyaan dan pernyataan yang menuntut mulai menyerbu. Mulai dari “Skripsi sampai mana?”, “Enggak coba-coba kerja, ta, biar ada pengalaman?”, sampai sindiran next level macam: “Eh, Mbak, kayanya mamamu udah ngebet gendong cucu, deh!”
Gusti tolong selamatkan hamba-Mu ini:(
Tepuk tangan salut buat kamu yang sampai detik ini belum pernah merasa overthink. Aku yakin sih, kebanyakan manusia –apalagi di fase remaja otw dewasa, pasti pernah aja gitu mikir berlebih soal hal yang 'enggak-enggak'. Tentang masa lalu, yang sedang dijalani, dan paling sering, ya bayang-bayang tentang masa depan. Bisa enggak sih aku memenuhi ekspektasi dari diriku sendiri? 
Hmmm kalau dipikir bagus buat evaluasi diri atau juga merencanakan masa depan. Tapi, kalau malah tiap kosong dikit langsung melamun, justru bikin suntuk seharian. Yang awalnya niat produktif, eh malah mikir berlebih dan berujung goler sambil main ponsel doang sebagai alasan buat menghibur diri. 
Ada baiknya emang jangan ada overthinking di antara kita, lol.

Kok Bisa Sih Manusia Overthinking? 
Udah mumet berpikir yang enggak-enggak, masih kepikiran pula, hei, kenapa aku bisa overthink? 
Based on research, kebiasaan terlalu-banyak-berpikir ini bermula dari perasaan kita untuk melindungi diri dari kemungkinan-kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi. Akan tetapi, semua yang berlebih memang tidak baik, kan? Terlalu berlebih memikirkan suatu hal tanpa berfokus pada problem-solving, justru bisa mengusik kesehatan mental dalam jangka panjang.

Let's Say Bye to Overthink.
Nah, kalau sudah begini, rasanya butuh refreshing buat ngosongin otak. Tenang, ada banyak hal di dunia yang bisa dilakukan untuk mengusir beban pikiran. Walau efeknya nggak permanen, setidaknya bisa bikin fresh sejenak. 

First of all, do the ‘social media-distancing’ challenge. Ini efeknya bukan main, asli. Masa percobaan bisa dimulai dengan menghilang dalam hitungan jam. Susah? I would say yes. Sering banget berpikiran harus tetep update ini-itu, terus keep in touch sama teman-teman via WhatsAp, merasa gabut kalau nggak scroll sana-sini terus pusing liat si A B C udah pada seminar sedangkan aku punya judul aja belum. Yak curhat. Menurut penelitian yang dimuat dalam Journal of Social and Clinical Psychology, terus-terusan mengakses sosial media justru memicu rasa kecemasan, depresi, kesepian, hingga perasaan takut ketinggalan. So, let’s leave over our phone for a while, Dear. 

grounding
Kedua, breath of the fresh air. Kadang tanpa disadari, kita terlalu lama berada di dalam ruangan. Nah, ini bisa bikin jenuh, suntuk, bawaan kzzzl aja udah. Coba yuk jalan-jalan keliling komplek atau sekadar earthing alias menghubungkan diri dengan alam, sesederhana jalan tanpa alas kaki di atas rumput. Pilihan lain yang paling aku suka, ya, riding. Keliling ringroad sambil ngedumel nggak jelas atau teriak juga boleh—yang di Jogja pasti tahu feelnya—berasa beban pikiran ilang dibawa angin. 

Luapkan gais, luapkan!
Saran ketiga, ya menulis, atau berkarya dalam bentuk lain. Mungkin bisa gambar, taking foto, mix matched baju, dan sebagainya. Luapan emosi kadang bikin tulisan—atau karya yang lain—terasa lebih hidup. Bahkan sekadar menulis ungkapan hati di buku diari yang nggak ada orang boleh baca.
"Ah, aku nggak bisa bikin-bikin begituan, Jen." 
Chill, Dude. Nggak ada juri, nggak ada peserta di sini. Cuma meluapkan emosi. Cari alternatif yang sekiranya kita enjoy ngelakuinnya. Oke?

Pilihan keempat, beberes rumah. Mungkin agak gimanaaaa gitu, tapi valid, kok! Alihkan perhatian pada kegiatan yang memicu kebahagiaan. Ih wow apa bahagianya bersih-bersih rumah? Ada, ngebahagiain emak malah. Kalau kata co-director San Francisco Bay Area Center for Cognitive Therapy, menata ulang rumah termasuk mastery activities yang kalo dipikir-pikir membosankan, tapi justru memperbaiki mood karena membuat kita mencapai suatu goal. Bisa juga coba metode decluttering ala Marie Kondo, sekalian memilah barang-barang yang sudah penuh-penuhi kamar kos atau rumah, yekan?

Pengalihan dari overthinking ini bisa beda-beda tiap orang, ya! Jadi perlu tau dulu nih, apa yang kita suka, apa yang kita nggak mau. Yuk, pelan-pelan recognise our self. Semoga bermanfaat:)

Share
Tweet
Pin
Share
5 komentar
Kawasan Kawah Sikidang

Throwback to the rainy February at Dieng!

Dari awal kuliah di Jogja, Dieng udah nangkring sebagai most wanted place di wishlistku, tapi berhubung hidup penuh drama enggak bisa ditebak, rencana pun baru jadi kenyataan Februari lalu. Prinsip mbolang kali ini adalah yang penting jalan-jalan(!) Belum tahu aja kalau pulang-pulang dari Dieng kudu ndekem lebih dari 5 bulan di rumah gara-gara Corona. Sad.  

Hujan, Teman Bermain di Dieng Bulan Februari 

Ala pemandangan pegunungan pada umumnya, hamparan kebun diselingi rumah warga menyapa mata begitu kami memasuki kawasan dataran tinggi Dieng. Udara segar menyeruak, ditambah bau daun-daun basah sisa embun. Suguhan mata yang worth it jika dibanding dengan tantangan yang harus dihadapi, jalanan meliuk menanjak berhias lumpur yang bikin motor -dan Bamet si rider- lumayan megap-megap. 
Butuh waktu sekitar empat jam hingga akhirnya kami tiba di lokasi wisata Dieng kulon yang terletak di perbatasan Wonosobo dan Banjarnegara. Tanpa menunggu lebih lama, kami memilih Candi Arjuno sebagai tujuan awal, mengingat lokasinya yang cukup dekat sekaligus bisa dijadikan tempat guling-guling ngelurusin punggung. Capek coy!
Mendapati langit biru cemerlang di waktu biasa turun hujan dan hembusan angin yang enggak terlalu kencang, rasanya: uh, perfect! Ekspektasi liburan tenang tanpa harus basah-basahan semakin membayang. 
----
Hadeh, diomongin, sih!
Satu jam kemudian, ilusi tentang hari cerah mendadak hilang, berganti dengan pengunjung yang lari-larian mencari tempat berteduh, sebab terangnya matahari sudah berganti awan gelap lengkap bersama hujan yang turun makin deras. Mau tidak mau, kami harus segera meninggalkan tanah lapang Candi Arjuno dan membelokkan tujuan kami ke Dieng Plateau Theater (DPT). Menghabiskan waktu dengan menonton film pendek selagi berharap sore bakal kembali cerah. 
Alam memang baik –atau labil?, hujan mereda sebelum sampai antrean kami menonton bioskop. Mumpung terik matahari mulai muncul, kami melipir menuju Batu Pandang Ratapan Angin yang terletak tepat di atas Dieng Plateau Theater.

Telaga Warna, Dieng.
Lumayan bikin encok juga mendaki di tengah tanah becek. Untungnya, susah payah kami terbayar foto wajah berseri dengan latar belakang pemandangan Telaga Warna. Indah. 
Kalau kamu berencana –atau dadakan berkunjung ke Dieng sekitar bulan Februari, ada baiknya selalu sedia mantel dan dibawa ke mana-mana. Sebagai antisipasi hujan deras yang datang dan pergi tanpa bisa diprediksi. Terutama selepas pukul sebelas siang dan sering kali baru berhenti total nyaris tengah malam. Cukup untuk membuat kelimpungan kala menikmati wisata dan so pasti, sambat. 
“Wah, memang gini, Mbak, musimnya. Seharian hujan terus, malah kadang dari pagi sampe pagi lagi.” kata ibu penjual gorengan di kawasan Batu Pandang Ratapan Angin, saat mendengar kami menggerutu karena hujan kembali datang. 
'Nggak papa, hari ini spesial bentar doang,' kata Bamet, berusaha berpikiran positif agar vibes liburan enggak berubah sendu kaya langit Dieng. Entah berapa lama kata ‘sebentar’ maksud Bamet, yang jelas hampir dua jam setelah menonton dokumenter, kami hanya duduk-berganti posisi-nyaris pingsan dilanda bosan menunggu hujan reda.
'Wedan, yakali nunggu terang, bisa-bisa niat dolan malah berubah jadi goler-goler di pelataran bioskop doang?!' Mau enggak mau, harus rela berkeliling mengenakan mantel dengan sedikit basah-basahan. Sudah berpikiran buruk, ga asik dong main ke kawah deres begini? 
Ternyata eh ternyata, berkeliling kawasan Kawah Sikidang pas hujan seru, Gais! Lebih sepi, bisa jalan ke sana-sini sambil gandengan tangan, terus muter-muter ala sinetron India, haha. Penjual di kawasan kawah juga tetap buka, lho –termasuk telur rebus kawah. Nggak perlu khawatir kelaparan, kami tetap bisa nyemil sambil kecek-kecek kaki di aliran air panas. Psst! Dah pasti mengambil potret diri demi perkontenan duniawi, walau setelahnya harus rela speaker ponsel blubub-blubub kemasukan air. Sad.

Si Bamet ujan-ujanan~

Tempe Goreng dan Sunrise Puncak Sikunir

19.47 Hujan belum benar-benar reda saat kami sudah duduk-duduk syantik, menyesap teh panas dengan uap mengepul di salah satu penginapan milik warga Desa Sembungan, desa tertinggi se-pulau Jawa. Kata bapak pemilik rumah, kalau hujan belum berhenti hingga lewat tengah malam, kemungkinan bakal awet sampai pagi, dan ada baiknya kami mengubur harapan untuk berangkat ke puncak Sikunir. Hikd, sedih. 
“Udah, tidur sek, terang kok terang.” ujar Bamet berusaha menghilangkan risau.
04.30 Azan subuh baru saja selesai saat kami bernapas lega mendapati hujan telah berlalu.
Grusak-grusuk motor keluar dari gang penginapan, menarik perhatian tetangga yang kebanyakan hendak berangkat salat Subuh ke masjid. Apa nggak kepagian?
Kata Bamet, nggak, jaga-jaga kalo capek bisa istirahat. (dibaca; jaga-jaga kalo aku jalan lemot). Untung manut, aku bisa mam tempe panas selagi menunggu Bamet salat.
Sambil menikmati gorengan yang panasnya hilang dalam sekejap, aku ngobrol dengan Ibu penjual tempe. Dari beliau aku tahu kalau hujan sudah berhenti sejak tengah malam. Beliau pun bercerita pendakian hari ini cenderung sepi, mungkin karena hari Senin jadi enggak terlalu banyak turis. Dibanding mengejar momen matahari terbit di Sikunir, orang-orang kini lebih tertarik mendaki ke Prau atau Sumbing sekalian. Di tengah cerita, beliau tertawa saat aku sambat semalam susah tidur gara-gara kedinginan.
“Loh, gini ini anget, Mbak, coba mbake dolan pas kemarau, sampek ketutup kembang es kui rumputnya.” Jawab ibu dalam bahasa campuran, lalu menawarkan sarung tangan.
Aku menolak, menutup obrolan dengan menyodorkan uang lima puluh ribuan. 
Sebenarnya, pendakian ke puncak Sikunir ini enggak begitu berat, sudah ada fasilitas anak tangga dan jalan setapak, pun hanya perlu waktu empat puluh lima menit sampai satu jam buat sampai ke puncak, tapi gimana, ya? kaki kentang ini mana biasaaaaaaa~ Baru tiga ratus meter aja rasanya napas engap dah mau habis. 
Puncak Sikunir Berkabut Total!
Parahnya, pengharapan kami tentang sunrise agaknya harus berakhir kecewa. Puncak Sikunir justru berkabut gelap. Nyaris pukul tujuh dan enggak ada tanda-tanda matahari mengintip di antara pemandangan gunung. Justru rintik kembali turun, entah air hujan atau embun pagi, yang jelas menuntut kami segera kembali ke bawah dengan sedikit rasa sesak. Kayanya sih, harus remedial, haha!
***
Share
Tweet
Pin
Share
4 komentar
Aloo! Long time no see. Sekian lama nggak update, akhirnya aku kembali!
Bulan Juli lalu, aku ikut salah satu webinar dari rangkaian acara Festival Dering Daring yang diadakan oleh komunitas Literaksi. Kelas bertema “Brainstorming Ideas for Online Content” ini benar-benar ngasih aku pencerahan untuk mengatasi creative-block alias enggak punya ide buat ngonten. Pembicara yang dihadirkan pun nggak kaleng-kaleng, loh. Kita diajak sharing bareng Kak Barajiwa Anggit, editor dari kanal YouTube edukasi sains terbesar se-Asia Tenggara, 'Kok Bisa?'. 

Mengenal Komunitas Literaksi 

Dari namanya bisa langsung tahu nih, kalau komunitas Literaksi merupakan komunitas yang bergelut di bidang pengetahuan literasi. Komunitas berbasis Yogyakarta ini rutin banget mengadakan kegiatan seru, loh. Seperti Rumpi Bioskop alias nonton film rame-rame yang dilanjut dengan diskusi asyik seputar film yang lagi beken, coaching class, diskusi dan update rekomendasi buku, hingga Festival Dering Daring yang sedang berlangsung dari Juli lalu hingga Oktober nanti. 
Nah, kalau ingin tahu lebih banyak bisa langsung cuss kepoin via Instagram Komunitas Literaksi, ya! 

Sedikit tentang Brainstorming

Brainstorming alias curah gagasan merupakan salah satu teknik kreatif yang digunakan untuk menjaring ide-ide spontan oleh sekelompok orang. Iya, nyeletuk asal yang berkualitas dan tentunya tanpa ada kritik. Tenang, brainstorming enggak harus rame-rame. Kamu juga bisa mencurahkan ide-ide liarmu sendiri. 
Di tahun 1953 Alex Oxborn, kakek pencetus teknik brainstorming ini beranggapan kalau gagasan-gagasan yang nggak direncanakan justru lebih cepat dan tepat digunakan untuk menganalisis sebuah situasi, melahirkan ide-ide baru yang inovatif, serta mampu menghasilkan langkah-langkah untuk pemecahan masalah. 

Mulai dengan Mengumpulkan Serpihan Ide

“Ntar aja deh, belum ada ide.” 

Satu catatan besar dari Kak Barajiwa, ide itu dibikin, diada-adain, bukan cuma ditunggu. 
Daripada bengong doang malah berujung menunda bikin konten, terus berakibat engagement sosial media kamu menurun, mending mulai brainstorming, mengumpulkan ide-ide liar kamu untuk dijadikan konten. 

Harus mulai dari mana?

1) Observasi 
“Lingkungan sekitar kita itu sumber konten.” 
Coba sesekali perhatikan, lalu bikin pertanyaan nggak penting dari suatu hal yang kamu amati. Contoh, nih, lagi beli di jalan, eh ketemu bule yang lagi dikerubungin orang-orang, coba buat satu-dua pertanyaan nyeleneh kaya; “Kenapa sih, kita suka wow kalau liat bule?”
((Konsepnya mirip Sir Isaac Newton waktu bengong terus kejatuhan apel, ya?)) 

2) Membaca 
Semakin banyak membaca, semakin banyak inspirasi yang bisa kamu inovasikan dan melahirkan ide-ide orisinal ala kamu. Well, kamu enggak harus baca buku sastra atau yang berat-berat gitu, kok. Baca apa aja yang kamu suka.

3) Berdiskusi
Bukan berarti harus ikut forum resmi berisi para ahli. Cukup ajak obrol teman, keluarga, bahkan orang yang duduk sebelahan pas di halte. Obrolan basa-basi tentang apa pun, secara tidak langsung bisa memberi kamu ide segar untuk keperluan konten kamu~ 
Dari tiga cara di atas, kamu bisa menemukan banyak sekali gagasan-gagasan baru. Lalu, bagaimana ‘menyaring’ agar menghasilkan ide konten yang epic?
Kata Kak Barajiwa, ide berpotensi jadi konten epic kalau; relate dengan momen yang ada, berisi fakta menarik dan hal-hal out of the box yang bermanfaat bagi audiens, mengundang rasa penasaran, hingga memicu diskusi dari berbagai sudut pandang. 


Selanjutnya, Research! 



Serpihan ide dadakan yang sudah kamu kumpulkan bakal jadi lebih oke kalau didukung dengan hasil riset. Langkah ini penting banget! Ibarat bangunan, riset berperan sebagai fondasi konten yang artinya harus dibuat se-kokoh mungkin ((tapi bukan dicampur semen, ya guys!)). Cukup mencari data-data penunjang untuk ide yang telah ditentukan. Bisa dari website terpercaya, jurnal akademik, hingga penuturan ahli di bidang terkait, hindari blogspot atau situs pribadi, ya. 

"Riset yang bagus: fiksi bisa berasa nonfiksi, nonfiksi bisa berasa fiksi."

Sedikit tips dari Kak Barajiwa dalam melakukan riset: 

Pertama, google pertanyaan terkait ide dalam bahasa Inggris. Selain membantu kamu untuk mendapatkan sudut pandang yang berbeda, alasan lainnya adalah karena lebih banyak publikasi ilmiah yang diunggah menggunakan bahasa Inggris :) 
Kedua, pilih setidaknya dua sumber, teliti fakta dan jawaban dari pertanyaanmu pada masing-masing sumber, bandingkan satu sama lain, lalu ambil kesamaan yang mendukung idemu. Semakin banyak referensi, semakin tangguh pula riset untuk kontenmu. 
Terakhir, check-re-check plus catat biar enggak lupa apalagi keliru! Pastikan referensi yang digunakan sudah benar, juga sesuai dengan konten yang akan dibuat. 

Yang terpenting, mulai ngonten mengenai hal-hal yang pasti kita suka, bisa kita pahami, percaya diri untuk publikasi, dan yakin kalau konten yang dibuat sudah didukung riset yang oke. Semangat melahirkan konten-konten baru, guys!


catatan: tulisan ini dibuat atas izin Komunitas Literaksi😊


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Hari ke- sekian physical distancing. 

Unsplash.com/Glenn Carrie
Apakah bosan? Ngadi-ngadi aja lu kalo jawab enggak. 
Tiap bangun tidur sampai tidur lagi yang dilihat tembok, layar laptop, cermin, layar hape, repeat. Saking seringnya ngelakuin yang itu-itu aja, sampai bikin hal-hal yang sebelumnya menyenangkan, tuh, jadi super boring. 
Contohnya, nih: rebahan.
Kalau pas sebelum Corona, rebahan adalah nikmat dunia bagi sejuta umat. Ketika dari pagi sampai sore –bahkan malam, sibuk kegiatan di luar ruangan, begitu balik ke rumah pasti bahagiaaaa banget ketemu kasur. Menjatuhkan diri ke kasur adalah momen yang ditunggu-tunggu! Begitu harus stay at home, enek-enek dah liat kasur. Kebas punggung kelamaan rebahan, ditambah pegal mata scroll timeline terus. 
Sekarang ngerasain, kan, capeknya jadi Patrick? Haha. 

Movie marathon juga bisa dibilang jadi kegiatan yang nggak lagi menyenangkan setelah Corona menyerang. Semua film yang sudah dijadwal buat ditonton tiap akhir pekan langsung dilibas habis dalam satu hari. Sampe bingung mau nontonin apa lagi. Bisa-bisa begitu anjuran phsyical distancing bubar, film dan serial Netflix khatam ditonton semua –oke ini sedikit berlebihan:) 
Udah bosan dengan rebahan sambil buka tutup Twitter-Instagram-Youtube-Whatsapp –padahal ga ada yang ngechat? Akhirnya mencoba mengisi kegabutan dengan main game. Sebenernya emang asyik, sis, tapi kalo gabutnya sudah sampe dua bulan gini? Saking banyak waktu luang buat nge-game, kayanya yang main uler-uleran sudah bisa tembus skor rekor muri. 
Kegiatan terakhir yang menurutku nggak lagi menyenangkan selama wabah: Belanja.
Nggak bisa dipungkiri, belanja fisik bisa jadi salah satu cara mengusir mood jelek, lho. Mau belanja kebutuhan dapur atau belanja yang lain itu nyenengin. Lihat-lihat barang berjejer di toko bikin segar mata. Sayang oh sayang, semenjak harus social distancing, belanja bawaannya enggak tenang, cuy! Tiap keluar beli kebutuhan sehari-hari selalu buru-buru, pengennya segera balik karena parno ketemu banyak orang random. Sedih juga lihat barang dagangan penjual yang biasanya bisa habis sebelum siang, ini sampe malem masih ada juga, hikd. 
Stay safe everyone dan semoga Corona segera berlalu:)
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
unsplash.com/ScottWebb

“Jadi mahasiswa gini amat, yak?” –Testimoni sebagai mahasiswa baru di tahun 2017. 

Siapa bilang kuliah lebih enak daripada sekolah? Tidak seindah bayanganmu, nak-kanak. Masa sekolah apa-apa sesuai instruksi guru, buku tersedia, berangkat-pulang jamnya pasti, bener? Di perkuliahan kamu menentukan sendiri segala hal yang menyangkut kehidupanmu. Boro-boro dengerin dosen ngejelasin, seringan juga mahasiswa diminta cari materi, dipresentasiin sendiri di kelas, pulang-pulang dikasih tugas. Yaa, cocoklah kalau dikasih slogan ‘dari mahasiswa, oleh mahasiswa, dan untuk mahasiswa’. Horor, kan? Emang. Belum lagi kalau dosen tiba-tiba nggak masuk tanpa ngasih kabar padahal mahasiswa hobi telat sudah pada duduk anteng di kelas, whoopsie!

Mau lebih horor? Ingat, masa perkuliahan tidak akan membebaskanmu dari drama pertemanan dan percintaan. Justru lebih complicated. Circle pertemanan yang lebih bhinneka memungkinkan kamu ketemu orang dengan berbagai latar belakang. Kadang cocok, seringan enggak. 

Pusing?

Sudah, takutnya? 

Yak, mari mencoba untuk tetap tenang. Jadi mahasiswa memang berat, tapi ada opsi cara jitu, demi menghadapi kelangsungan kehidupan perkuliahan agar less worries. 

Pertama, tidak ekspektasi masa kuliah ≥ masa sekolah. Kenapa? Ya memang nggak gitu, hettt. Dari sistem belajar, sudah kusinggung di atas. Cara belajar pas kuliah itu lebih nano-nano. Tugasnya nggak lebih sedikit daripada tugas sekolah! Persoalan berteman juga sama. Nggak seperti waktu SMA yang hampir 10 jam selalu bareng teman-teman, di perkuliahan bakal lebih sering merasa sendirian. Jadi, enaknya kuliah cuma pake baju non-seragam, itupun bikin makin banyak cucian. Yok kontrol ekspektasi, yok~ 

Kedua, jadilah cuek, tapi nggak apatis. Ini adalah core of the core dari keseluruhan cara jadi mahasiswa chill. Ingat kata mbak Kirana Larasati ke mbak Jenny Jusuf, “Yaudah, si, Jen,...” mungkin penggalan kalimat itu bisa jadi pegangan hidup. Nggak semua masalah harus kamu tahu –apalagi masalah pribadi. Tips ini juga menjauhkan kamu dari overthink. Yaya, kadang kelihatan bego, sih, tapi mending daripada makin pusing. Walaupun cuek bebek, tetap mahasiswa nggak boleh apatis. Bedain! 

Ketiga, kenali dan yakin sama diri sendiri. Apa hubungannya? Akan ada masa di perkuliahan antara kamu dan teman terdekatmu menjadi saingan, bahkan tiba-tiba jadi lawan. Iri, kesel, misuh-misuhan, ugh! Oke, kompetitif itu wajib, tetapi nggak memforsir secara berlebih. Belum tentu yang dilakukan temanmu itu sama dengan kemampuanmu dan bukan berarti kamu nggak bisa berteman dengan orang yang bersangkutan. Temukan langkah suksesmu sendiri, Sayang –mencoba berbicara kepada diriku saat ini. 

Keempat, stop berharap lebih dan keep it balance. Ke teman, ke pacar, ke dosen, ke orang tua, cukup ke dirimu sendiri. Seriously, satu-satunya yang bisa melakukan isi pikiranmu dengan baik adalah kamu. Dengan nggak berharap lebih, seenggaknya kamu mengurangi rasa kekecewaan yang bisa timbul di lain waktu. Terus, penting juga membagi waktu antara kegiatan akademik, sosial, dan pribadi. Biar kuliah lancar, pertemanan meluas, dan mental tetap sehat. Semangat!

Kelima, banyak-banyak bersyukur. Mungkin ada fase temanmu mungkin sudah menemukan pekerjaan sampingan atau kegiatan lain dan kamu berpendapat itu lebih baik daripada kegiatan sehari-harimu yang isinya jalan-jalan, kuliner, nonton sama pacar, dan sama sekali belum menghasilkan cuan. Syukurin aja dulu, sambil berdoa dan berusaha besok lusa kamu bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah dan temanmu punya kesempatan menikmati pengalamanmu yang sebelumnya. Nikmat Tuhan itu adil, kok. 

Keenam, tetap berusaha, lah! Edan po goler-goler tok? 

Lakukan semua sesuai kata Hindia, secukupnya. Semoga pengalaman dengan curhatan implisit mahasiswi semester VI yang sedang pusing ini bisa bermanfaat agar semua kaum almamater universitas jadi lebih chillin'. Daaaaaadah!
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Bagi para pecinta komik, Line Webtoon menjadi salah satu portal gratis favorit untuk mengakses komik digital. Webtoon berbasis Korea Selatan ini menyediakan beragam genre komik yang bisa kamu nikmati. Nggak hanya dari manca negara, banyak karya kreator lokal yang asik untuk dibaca. Berikut rekomendasi Webtoon lokal yang siap menambah list komik digital favoritmu! 

1. Matahari ½ Lingkar 


  Memanggil pecinta romance! Komik karya Chairunnisa ini bakal bikin perasaan kamu campur aduk! Menceritakan seorang gadis bernama Kayra yang sudah 10 tahun memendam perasaan kepada teman semasa SMA, Arka. Satu dasawarsa telah berlalu, nyatanya Kay masih belum bisa sepenuhnya move-on. Lama tidak berjumpa, Kay dipertemukan kembali dengan kenyataan bahwa Arka akan segera menikah. Nah, lho? Apa kabar perasaan Kay? Webtoon ini nggak hanya berfokus pada dunia Kay dan Arka, tetapi juga hubungan pertemanan Kay, Shei, dan Jiya, juga perasaan menggantung Kak Ben untuk Kayra. Asli, wajib baca! 

2. Kosan 95


Saat Rena sedang pusing mencari uang untuk membayar biaya kosannya yang telah menunggak lebih dari batas waktu, sebuah tawaran menggiurkan datang. Rena diundang untuk tinggal di kosan ekslusif bernama Kosan 95, tanpa harus membayar sekaligus diberi kesempatan bekerja di JY Group. Embel-embel lain yang lebih membuat Rena penasaran, Rena akan dipertemukan dengan sang kakak yang telah lama terpisah akibat kasus penculikan. Meski terasa menguntungkan, nyatanya teka-teki kehidupan Rena di Kosan 95 dan tempatnya bekerja, JY Group, tidaklah mudah. Kisah Rena demi bertemu kakaknya karya Didiwalker ini akan bikin kamu penasaran sekaligus kesal!

3. 7 Wonders 


Pernah mendengar legenda Jaka Tarub, Nawangmulan, dan 7 Bidadari? Jika iya, mungkin kamu akan naksir dengan komik fantasi karya Metalu ini! Di tengah keterpurukkan karena jatuh miskin, Jaka mendapat kejutan bertemu 7 bidadari sedang bermain air di sungai. Seperti kisah legenda, Jaka versi Webtoon juga mencuri selendang salah satu bidadari bernama Kenanga. Kisah Jaka tidak berakhir begitu ia jatuh cinta pada Kenanga yang harus kembali ke Kahyangan setelah menemukan selendangnya. Jaka yang mengetahui bahwa ia adalah pewaris Kerajaan Inti Bumi murka saat Kenanga akan dijadikan istri ke-7 oleh Dewasrani. Konflik guna memenuhi ambisi Jaka merebut Kenanga membuat komik ini semakin menarik untuk ditunggu setiap minggunya! 

 4. Tweening 


 Kalau kamu suka kisah romance ala remaja, coba mampir Webtoon karya Amabel Emillavta berjudul Tweening. Komik ini menceritakan Caroline Manson, gadis asal Indonesia yang sedang menempuh studi animasi di Rouge Academy of Arts. Hidup di rantau tentu membuat hari-hari Carol nano-nano, apalagi setelah ia mengenal senior sekaligus anak pianis terkenal di kampus, Nathan. Kisah yang relatable dengan kehidupan sehari-hari dibungkus gambar epic, pasti bisa bikin kamu betah lama-lama baca Tweening! 

5. Blue 


Berteman dengan hantu nggak selamanya menyeramkan. Setidaknya itu yang dirasakan Juni setelah mengenal Sam, hantu jembatan yang terus mengikutinya. Meski awalnya cukup menyebalkan, Sam membantu Juni ‘si penyendiri’ menjadi banyak kawan. Di saat Juni mulai nyaman dengan hadirnya Sam, Juni harus menelan kenyataan bahwa Sam adalah makhluk dari dimensi lain yang harus kembali ke alam baka, bisakah Juni merelakan Sam? 

 6. Rainbow Bridge 


 Kamu suka hewan? Mungkin kamu akan jatuh cinta dengan kisah Aira, dokter hewan baik hati yang harus melanjutkan klinik milik kakeknya dan tiba-tiba bisa melihat arwah hewan yang telah meninggal. Nggak hanya melihat, Aira juga harus membantu para hewan ini untuk menyelesaikan urusan di dunia sebelum pergi untuk selama-lamanya. Meski baru update hingga episode 7, komik Rainbow Bridge bakal bikin kamu mengharu biru! 

 7. Zona Maya 


 Menjauh bukan berarti akan dijauhkan. Begitulah kisah Maya dengan Radi karya Tupaikidal. Walaupun harus berpisah pasca pertemuan singkat saat SMA (baca: Lara(s)Hati), Maya dan Radi kembali dipertemukan di kampus yang sama. Seolah kisah lama belum selesai, Maya terus menerus menghindari Radi demi menghalau perasaan aneh tiap mereka bertatap muka. Coba intip kejahilan Radi pada Maya di Webtoon Zona Maya. Ada kemungkinan Maya dan Radi bisa jadian nggak, sih? Jadi, mana Webtoon baru ?
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
pexels.com
Sejak menjadi mahasiswa di tanah orang (re: rantau), jalan-jalan seperti menjadi langganan to-do list aku tiap bulan. Parahnya lagi, kalau sedang pusing deadline tugas, bisa-bisa aku dan Bamet ‘kabur’ cari hiburan tiap minggu. Berhubung kami adalah mahasiswa berkantong tipis, jadi penting banget buat pilah-pilih wisata yang menyenangkan di hati dan pastinya nggak ngurangin jatah makan akhir bulan!
Nah, supaya rencana jalan-jalan tetap aman, ada beberapa strategi yang biasa aku lakuin untuk meminimalisir pengeluaran selama perjalanan! Apa aja, nih?

Tentukan Destinasi Wisata yang Akan Dituju

pexels.com
Sebelum memulai perjalanan, coba untuk research kira-kira tempat mana aja yang pengin kamu kunjungin. Jangan lupa catat, ya! Bila perlu, persiapkan maps atau penunjang perjalanan. Hal ini bermanfaat untuk menghemat waktu dan bahan bakar kendaraan kamu.

Pilih Hari Non-Weekend

freepik.com

Mengingat jadwal kuliah lebih fleksibel dan nggak setiap hari di satu minggu, coba deh pindah jadwal jalan-jalannya ke hari kerja –Senin sampai Jumat. Selain besar kemungkinan harga lebih murah (tiket masuk lokasi wisata, akomodasi, dll), pastinya destinasi yang kamu tuju juga nggak terlalu ramai pengunjung.

Pakai Kendaraan Pribadi

freepik.com

Traveling ke daerah dengan sarana transportasi penunjang yang belum memadai memang cukup tricky. Menggunakan kendaraan pribadi bakal mempermudah kamu mengakses destinasi wisata yang letaknya belum tentu memiliki fasilitas angkutan umum. Opsi menyewa kendaraan dengan sistem harian juga bisa kamu pertimbangkan. Selain lebih mudah dan memotong budget, memilih berwisata dengan kendaraan pribadi juga efisien waktu, lho!

Bawa Bekal

unsplash.com

Yap, mengisi perut masih menjadi kegiatan wajib ketika melakukan perjalanan. Membawa bekal bisa menjadi pilihan hemat, apalagi kalau melakukan perjalanan wisata singkat. Jika tidak memungkinkan, kamu tetap bisa hemat dengan memilih rumah makan yang sudah menyediakan daftar harga makanan. Strategi ini bermanfaat untuk menghindari pengeluaran membengkak, guis!

Hindari Membeli Kebutuhan yang Bisa Dibawa Mandiri

freepik.com

Hal ini berlaku ketika hendak mengunjungi wisata pemandian, misalnya. Usahakan selalu membawa perlengkapan penunjang dari rumah (cth: sabun, baju renang) agar kamu tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli atau menyewa barang-barang tersebut.

      Nah, sekarang kamu siap berpetualang dengan lebih hemat. Jadi, ke mana tujuan kamu selanjutnya? Semoga tips di atas bisa membantu, ya!

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

Kenalan, yuk!

Kenalan, Yuk!

an earth-based storyteller who loves to write randomly.

kenal lebih jauh

Catch me on:

  • twitter
  • instagram
  • pinterest

Kategori

Jejak Rekomendasi Sambat Taktik anabul cariyos catatan

Space Ads

soon

Last Update!

Babu 101: Yang Perlu Kamu Siapkan Saat Hendak Pelihara Kucing

babies.  Masih dalam episode menjadi babu magang yang berusaha memahami kucing secara otodidak. Kali ini aku mau berbagi guide-line dasar a...

Blog Archive

  • ►  2021 (5)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (2)
  • ▼  2020 (7)
    • ▼  Desember (1)
      • Secuil Siasat Mengusir Overthinking
    • ►  November (1)
      • Jejak Bermain Hujan di Dieng
    • ►  September (1)
      • Catatan Serunya Ikut Festival Dering Daring: “Brai...
    • ►  April (1)
      • Hal yang Tak Lagi Menyenangkan Setelah Corona Datang
    • ►  Maret (2)
      • Cara Santai Hadapi Mumetnya Jadi Mahasiswa
      • Rekomendasi Webtoon Lokal yang 'Baperable'
    • ►  Januari (1)
      • Tips Traveling Budget Mepet ala Mahasiswa
  • ►  2019 (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2018 (5)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)

Unggahan Populer

Diberdayakan oleh Blogger.

Yuk, jadi sahabat pena!

Nama

Email *

Pesan *

Bagian dari:

Blogger Perempuan
”blogger
1minggu1cerita

Laporkan Penyalahgunaan

“We write to taste life twice, in the moment and in retrospect.”

― Anais Nin

jeneruri.com copyright contents © 2021 | theme created by ThemeXpose